Cara Menanam Cabe Rawit Hingga Panen Hasil Melimpah

Cara Menanam Cabe Rawit Hingga Panen Hasil Melimpah
strategi usaha dibidang pertanian salah satunya adalah menanam cabai rawit

Cara Menanam Cabe Rawit merupakan salah usaha yang memiliki prospek yang sangat menjanjikan untuk saat ini. Karena sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa cabai dari tahun ke tahun memiliki harga jual yang begitu tingii terlebih saat menjelang hari besar seperti hari puasa ramadhan, menjelang lebaranapai, tahun baru, dan lain sebagainya. Cabai merupakan salah satu komoditi sayuran yang diperlukan untuk memasak setiap harinya. Coba kalian bayangkan jika sudah tidak ada cabai. Darimana akan kita peroleh sumber pedas selain dari cabai?.

Tanaman cabai memiliki keunikan tersendiri didalamnya. Menurut penelitian yang sudah dilakukan di laboratorium terkemuka di seluruh dunia, ada beberapa manfaat penting dari cabai yang sudah dilakukan di laboratorium terkemuka di seluruh dunia. Diantara manfaat cabai tersebut yaitu:
mencegah kanker,

  1. Menambah nafsu makan,
  2. Menunda penuaan dini,
  3. Mencegah struk,
  4. Menjaga kesehatan jantung, dan
  5. Membantu mencegah dan mengobati nyeri tubuh.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Cara Menanam Cabe Rawit Hingga Panen yang baik agar memperoleh hasil yang melimpah.

  1. Tahap persiapan lahan
  2. Tahap persiapan benih cabe
  3. Tahap persemaian benih cabe
  4. Tahap penanaman benih cabe
  5. Tahap pemupukan
  6. Tahap pengairan
  7. Tahap pengendalian gulma
  8. Tahap pengendalian penyakit
  9. Pemanenan

Tahap persiapan lahan

Tahapan persiapan lahan sangat penting dilakukan sebagai tahap awal keberlangsungan dan keberhasilan hidup tanaman cabai. Sebelum melakukan penanaman baik itu di kebun maupun di polybag, ada 2 (dua) hal yang harus dilakukan dalam melakukan persiapan lahan.

  1. Pengolahan dan pembersihan lahan
    Pengolahan lahan dapat dilakukan dengan cara mencangkul dan menggemburkan tanah. Kedalaman cangkul yang digunakan dalam pengolahan tanah diusahakan sedalam 30cm (sampai gembur). Setelah itu tanah diratakan dan dibersihkan dari berbagai sisa tanaman/gulma. Apabila penanaman dilakukan di media polybag, pengelolaan lahannya cukup mudah yaitu dengan cara menyediakan tanah secukupnya yang sudah digemburkan dan dicampur menggunakan pupuk kandang.
  2. Pembuatan guludan/bedengan
    Berikut adalah cara membuat guludan/bedengan untuk menanam cabai, antara lain:
    ~ Tanah dicangkul hingga gembur
    ~ Membuat guludan/bedengan dengan lebar sekitar 1 meter dan ketinggian sekitar 30 cm.
    ~ Jarak antar guludan/bedengan satu dengan yang lainnya berjarak 0,5 meter dengan kedalaman antar guludan/bedengan sekitar 40cm yang digunakan sebagai drainase/pengairan.
    ~ setelah dibuat guludan/bedengan, kemudian ditutup plastik mulsa berwarna perak. Pemasangan plastik disarankan posisi warna perak berada di atas sedangkan warna hitam berada di bawah agar tidak terjadi penyerapan panas sehingga kondisi tanah tidak kekeringan. Untuk mempermudah pemasangan plastik mulsa diusahakan pemasangan dilakukan pada siang hari saat ada sinar matahari.
    ~ Setiap guludan/bedengan berisi 2 baris tanaman cabai.
    ~ Guludan/bedengan yang sudah terpasang plastik dibuat lubang karena akan digunakan untuk penanaman cabai. Jarak antar lubang/tanaman sekitar 40-50 cm x 40-60 cm dengan posisi zig-zag agar sinar matahari dan sirkulasi udara dapat masuk melalui celah antar tanaman.

Tahap Persiapan Benih Cabai

Faktor penentu keberhasilan suatu usaha budidaya menanam cabe adalah dengan memperhatikan varietas benih cabai yang cocok dengan lokasi dimana benih tersebut akan ditanam. Selain pemilihan varietas benih, juga perlu diperhatikan proses pemilihan benih yang bermutu tinggi, cara budidaya yang optimal, serta panen dan pasca panen cabai yang nantinya akan dihasilkan.

Di Indonesia, ada beberapa jenis varietas benih cabe yang dapat dibudidayakan yaitu bara, pelita F1, taruna, dewata F1, dan juwita F1. Lalu bagaimana cara memilih benih cabe yang baik agar mendapatkan benih yang bermutu tinggi?. Secara garis besar, ada 4 komponen cara memilih benih cabe, yaitu:

  1. Mutu genetik
    Mutu genetik dapat dioptimalkan melalui seleksi. Kenapa seleksi?. Karena proses seleksi bertujuan untuk memperoleh kemurnian benih. Apabila anda membuat benih sendiri, disarankan benih yang diperoleh adalah benih dari hasil panen ke 4-6. Apabila benih yang diperoleh lebih dari panen ke 6, tanaman yang akan dihasilkan dari benih tersebut tidak optimal. Cara lain mendapatkan benih dengan mutu genetik yang tinggi dilakukan juga seleksi terhadap tanaman yang memiliki produksi buah cabe yang lebat.
  2. Mutu fisiologis
    Mutu ini berkaitan erat dengan waktu panen. Apabila benih yang diperoleh dari cabe yang kurang tua/kurang masak (belum saatnya panen), maka hasil benih yang diperoleh kurang bermutu.
  3. Mutu fisik
    Indikasi benih cabai dikatakan bermutu tinggi secara fisik dapat dilihat dengan ciri-ciri tidak keriput, berukuran normal, tidak ada kulit yang menempel, sehat, dan terlihat segar
  4. Mutu kesehatan
    Membahas tentang kesehatan maka tidak lepas dari yang namanya penyakit. Dalam proses produksi benih, harus diperhatikan kadar air agar memperoleh daya kecambah (vigor) diatas angka normal. Kadar air benih cabai yang baik antara 7% hingga 10%. Angka tersebut mampu menghasilkan daya kecambah hingga 80%.

Tahap Persemaian Benih Cabai

Tahap yang selanjutnya setelah pemilihan benih cabai adalah tahap persemaian benih. Pada tahap ini, yang perlu dilakukan adalah menyiapkan tempat persemaian menggunakan atap plastik transparan menghadap ke timur agar sinar matahari masuk selama hari itu. Media persemaian dapat dilakukan menggunakan hamparan tanah maupun polybag langsung. Persemaian yang menggunakan hamparan tanah disarankan digemburkan terlebih dahulu kemudian dicampur dengan pupuk organik atau pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Sebelum benih disemai, disarankan agar benih direndam terlebih dahulu menggunakan Fungisida Propamocarb dengan konsentrasi 0,1% selama 1 jam. Jika tidak ada bahan tersebut bisa menggunakan air hangat (50 °C) selama 1 malam.

Persemaian benih yang dilakukan menggunakan hamparan tanah, disebar di atas tanah tersebut kemudian diatasnya ditabur tanah halus atau abu dengan ketebalan kurang dari 0,5 cm. Untuk menjaga kelembaban tanah persemaian tetap terjaga, disarankan di atas lahan semai ditutup menggunakan daun pisang kering. Jika tidak ditutup bisa dilakukan dengan penyemprotan air biasa.

Setelah benih berkecambah yaitu sekitar umur 1 minggu, penutup sudah bisa dibuka. Kemudian bibit dipindahkan ke dalam media polybag atau pot-pot kecil yang sudah disediakan. Bibit dapat ditanam ke lahan terbuka seperti sawah/kebun setelah berumur 7-8 minggu atau setelah bibit cabai tumbuh daun sekitar 4-5 helai daun. Namun apabila metode yang disebutkan di atas terlalu merepotkan (terlalu ribet), berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan adalah dengan cara melakukan penyemaian langsung pada polybag atau pot-pot kecil kemudian ditunggu hingga tumbuh dan siap dipindahkan ke lapangan.

Tahap Cara Menanam Cabe Rawit

Tahap selanjutnya setelah penyemaian benih adalah tahap penanaman bibit cabe. Pada tahapan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatian sebelum melakukan penanaman bibit cabai.

  1. Baiknya penanaman dilakukan pada waktu pagi dan sore hari. Hal tersebut mengingat dengan adanya sumber air yang tercukupi, curah hujan, serta gangguan hama dan penyakit sehingga bibit cabai dapat tumbuh dengan sehat.
  2. Sehari sebelum penanaman lahan disiram menggunakan air biasa bersamaan dengan pembuatan lubang pada guludan/bedengan yang tertutup plastik mulsauntuk menanam bibit cabe.
  3. Masukkan bibit cabai ke dalam lubang yang sudah dibuat. Sebelum dimasukkan, plastik polybag dilepas tanppa merusak akar bibit
  4. Timbun dengan tanah disamping lubang tanam sampai akar bibit cabai tidak terlihat
  5. Penanaman yang dilakukan di sawah disarankan  dipasang ajir atau lanjaran sebagai penopang pohon cabai agar tidak roboh terbawa angin.

Tahap Pemupukan

Pemupukan menadi hal yang sangat penting dalam proses budidaya menanam cabai agar mendapatkan hasil yang melimpah. Disarankan sebagai dasar pemupukan menggunakan pupuk kandang secukupnya. selanjutnya dilakukan pemupukan susulan dengan sistem MPHP. Pupuk sistem ini diberikan sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman cabai.

Ada 2 fase pertumbuhan tanaman cabai. Pertama fase vegetatif. Pada fase ini pupuk yang diberikan menggunakan pupuk NPK 16:16:16 atau 8:15:19 atau 10:20:20 dengan dosis 10 gr/liter, dosis aplikasi 250 cc/tanaman, waktu dan cara aplikasi 15 HST-dikocor. Kedua fae generatif. Pada fase ini jenis pupuk yang diberikan menggunakan pupuk NPK 16:16:16 atau 8:15:19 atau 10:20:20 dengan dosis 10-15 gr/liter, dosis aplikasi 250 cc/tanaman, waktu dan cara aplikasi 30-35 HST dikocor.

Pemberian pupuk susulan diberikan setelah 2  minggu dari penanaman. Pupuk yang diberikanbisa dengan NPK 0,5 gelas dilarutkan dengan air 1 ember (maksimal 10 liter) untuk 40 tanaman. proses pemupukan diulang tiap 10-15 hari sekali. Umur 1 bulan dan 115 hari diberi pupuk granular (sebar) sebanyak 1 sendok.

Tahap Pengairan

Tanaman cabai merupakan tanaman yang memiliki daya hidup dan masa buah yang panjang. Oleh sebab itu, tahap pengairan menjadi hal yang sangat penting. Masa krisis tanaman cabai yaitu pada saat tanaman cabai dalam proses pertumbuhan vegetatif, pembentukan bunga, dan pembentukan buah. Kelembaban tanah yang diperlukan untuk tanaman cabai sekitar 60-80% dari kapasitas lapang.

Tahap Pengendalian Gulma

Seperti halnya benalu, gulma merupakan tanaman pengganggu bagi tanaman utama. Maka dari itu, tanaman jenis ini menjadi masalah yang penting dalam budidaya menanam cabai. Gulma berkompetensi mempersempit ruangan, sinar matahari,  sirkulasi udara, dan unsur hara yang ada di dalam tanah. Namun gulma dapat dikendalikan dengan cara manual yaitu dengan melakukan penyiangan atau penyemprotan dengan peptisida.

Tahap Pengendalian Penyakit

Kita tahu bahwa tanaman cabai sangat rentan terhadap penyakit baik itu penyakit yang berasal dari virus, jamur, dan bakteri. Ada pula penyakit tanaman cabai yang sangat terkenal yaitu penyakit yang diakibatkan oleh serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus, jamur, maupun bakteri yaitu bercak daun, patek, busuk, layu, keriting daun, dan virus kuning. Contoh OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman cabai yaitu ulat grayak, tungau, kutu daun, lalat buah, dan thrips.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?. Biasanya serangan POT terjadi saat musim hujan berlangsung. tidak sedikit tanaman dan buah cabai yang terlihat kusut, layu, busuk dan sebagainya. Berikut adalah upaya yang dapat diupayakan dalam pengendalian OPT, cendawan, dan virus pada tanaman cabai.

  1. Melakukan sanitasi lingkungan dengan cara membersihkan sisa buah cabai yang busuk karena rontok karena patogen penyebab penyakit dapat berkembang pada buah yang jatuh ke tanah.
  2. Meninggikan guludan/bedengan
  3. Pemupukan yang sesuai (200-250 kg urea, 400-450 kg Za, 100-150 kg TSP, 100 kg KCL, serta 30 ton pupuk organik/ha)
  4. Memilih varietas yang bermutu tinggi yang dapat tahan terhadap serangan penyakit
  5. Melakukan pergantian musim tanaman.
  6. Penggunaan plastik mulsa untuk meminimalisir gulma
  7. Memusnahkan dan mengganti tanaman yang terserang penyakit dengan tanaman yang baru
  8. Melakukan penyemprotan dengan semprot anti serangga.

Pemanenan

Panen cabai tidak seperti panen padi, artinya panen cabai mempunyai masa panen yang panjang. Setelah melakukan beberapa tahapan mulai dari tahap persiapan lahan hingga tahap pengendalian penyakit sekarang tiba saatnya untuk panen. Kegiatan panen merupakan kegiatan memetik buah cabai yang sudah matang dari pohonnya. Bisanya buah cabai dapat dipanen kurang lebih selama 2,5-3 bulan (terhitung setelah tahap persemaian). Antara panen pertama dan panen berikutnya biasanya selisih 2-3 hari tergantung dari tingkat kemasakan buah cabai.

Teknik pemetikan buah cabai pun tidak asal petik begitu saja. pemetikan yang baik yaitu dengan memotong tangkai buah cabai dari pohonnya dengan cara memelintir searah dengan jarum jam. Selain itu pemetikan juga dilakukan pada cabai yang terserang penyakit agar tidak menular pada buah cabai yang belum bisa dipanen. Waktu untuk memetik atau memanen buah cabai hendaknya pada pagi atau sore hari. Karena pada pagi hari biasanya buah cabai memiliki bobot yang sempurna akibat dari hasil metabolisme pada malam hari sebelum panen. Sedangkan pada sore hari kondisi buah cabai sudah tidak layu karena panas sinar matahari.

Demikianlah penjelasan mengenai Cara Menanam Cabe Rawit Hingga Panen Hasil Melimpah yang sudah terbukti oleh kebanyakan petani di desa.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *