Cara Beternak Ayam Petelur Rumahan Untuk Pemula Skala Kecil

Cara Beternak Ayam Petelur
Cara Beternak Ayam Petelur Rumahan Untuk Pemula Skala Kecil

Ayam petelur merupakan jenis ayam yang memang sengaja dipelihara dengan tujuan untuk diambil telurnya. Sejarah asal mula ayam petelur berasal dari ayam hutan yang memiliki produksi telur cukup banyak. Dari tahun ke tahun, ayam hutan ini mengalami domestikasi hingga akhirnya dapat dipelihara dan dibudidayakan dalam jumlah yang banyak. Kini, dengan cara beternak ayam petelur rumahan skala kecil saja bisa mendatangkan jutaan rupiah.

Peluang budidaya ayam petelur masih sangat terbuka lebar mengingat tingginya konsumsi telur masyarakat yang didasarkan pada pola hidup dan kesadaran masyarakat. Salah satunya adalah  sebagai pemenuh kebutuhan gizi yang bersumber dari protein hewani. Selain itu, telur juga telur juga salah satu sumber makanan yang sangat praktis untuk disajikan sebagai laik makanan. Tingginya permintaan akan kebutuhan telur menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi peternak ayam petelur untuk bisa mensuplai dan mencukupi angka kebutuhan gizi dalam negeri.

Cara beternak ayam petelur skala kecilsebenarnya tidak sulit seperti apa yang ada di benak pikiran kita selama ini, namun demikian tidak juga dianggap remeh. Beberapa pengusaha yang menggeluti di bidang budidaya ayam petelur ada yang benar-benar sukses seperti Bob Sadino, ada juga yang menyerah ditengah jalan. Kuncinya hanya satu yaitu Cintai terlebih dahulu jenis usaha yang akan dijalani agar kesuksesan bisa terwujud.

Cara beternak ayam petelur Rumahan Untuk Pemula

Sebagian dari kita masih bertanya-tanya seperti apa cara beternak ayam telur yang baik agar memperoleh produk yang banyak dengan jangka waktu yang lama. Nah, pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai bagaimana cara beternak ayam petelur rumahan untuk pemula skala kecil yang baik menurut seputarusaha.com.

Ada beberapa cara yang perlu dilakukan atau diperhatikan dalam budidaya/beternak ayam petelur. Namun sebelum membahasnya, perlu diketahui bahwa jenis ayam petelur ada 2 tipe. Yaitu:

  1. Ayam petelur tipe ringan
    Ayam petelur tipe ringan disebut juga dengan tipe ayam petelur putih karena produk telur yang dihasilkan berwarna putih. Ayam tipe ini mampu menghasilkan telur sebanyak 260 butir/tahun/ekor. Kelemahan ayam tipe petelur putih adalah sangat sensitif terhadap cuaca panas dan lingkungan yang terlalu ramai sehingga produksi telur dapat terganggu (menurun).
  2. Ayam petelur tipe sedang/medium
    Ayam petelur tipe sedang/medium sering disebut dengan tipe ayam petelur coklat. Ayam tipe ini memiliki 2 fungsi yaitu selain digunakan sebagai produksi telur juga digunakan sebagai penghasil daging. Jika dibandingkan dengan tipe ayam petelur ringan/tipe petelur putih, produksi telur yang dihasilkan oleh petelur ringan lebih sedikit dan ukuran telurnya lebih besar. Oleh karena itu, harga telur yang diproduksi ayam tipe ringan ini lebih mahal.

Selain mengetahui jenis tipe ayam, juga harus mengetahui siklus pemeliharaan ayam petelur, meliputi:

  • Umur 1-12 minggu (pullet). Dipelihara di dalam kandang postal
  • Umur 13-18 minggu. Penyesuaian kandang battery sebelum ayam mulai produksi
  • Umur 18-28 minggu. Ayam mulai memproduksi telur
  • Umur 28-36 minggu. Puncak produksi bertelur
  • Umur 37-89 minggu. Produktivitas ayam mulai mengalami penurunan
  • Umur 90 minggu. Ayam mulai di afkir
  • Umur 8-9 minggu. Perlakuan pengeringan kandang

Syarat Teknis Beternak Ayam Petelur

Syarat Pemilihan Lokasi

Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi cara budidaya ayam petelur  rumahan maupun besar adalah sebagai berikut:

  1. Jauh dari pemukiman penduduk dengan jarak minimal 150 meter
  2. Lokasi terpilih bersifat permanen (tidak berpindah-pindah)
  3. Terdapat sumber air yang melimpah
  4. Jauh dari jalan raya untuk meminimalisir tingkat stres ayam petelur
  5. Mudah dijangkau oleh pusat-pusat pemasaran
  6. Jauh dari pusat pembibitan ternak lain agar pencemaran bibit penyakit dapat terhindari
  7. Jauh dari hewan pemangsa/predator

Apabila anda sudah mantap dalam pemilihan lokasi, sekarang anda tinggal menentukan manajemen kandang ayam petelur.

Manajemen Kandang Ayam Petelur

Manajemen kandang memegang peran yang besar dalam proses cara beternak ayam petelur rumahan. Fungsi kandang sebagai tempat berlindung baik dari cuaca ekstrim maupun hewan predator harus dibangun yang berpedoman kepada kenyamanan dan keamanan. Persyaratan umum dalam memanajemen kandang disesuaikan berdasarkan siklus pemeliharaan ayam yang sudah dijelaskan di atas. Untuk kandang pembesaran (pullet) yang ideal dibangun dengan ukuran panjang sesuai dengan lahan yang tersedia sedangkan lebarnya dibuat dengan ukuran 5-6 meter. Iklim kandang yang ideal untuk kandang ayam petelur berkisar antara 32,2–35 °C dengan kelembaban mencapai 60-70%.

Posisi (layout) pembuatan kandang menghadap kearah barat-timur agar memperoleh sinar matahari, Bahan konstruksi pembuatan kandang  tidak terlalu mahal yang penting kuat, Perlengkapan peralatan kandang diusahakan disediakan selengkap mungkin untuk mempermudah proses budidaya selama berlangsung seperti tempat pakan, tempat air minum, penerang kandang, tempat penyimpanan obat, vitamin, dan vaksin, serta tempat penyimpanan pakan.

Bentuk dan Jenis Kandang Ayam Petelur

Berdasarkan sistem pemeliharaannya, Bentuk kandang ayam petelur dibagi menjadi 2 yaitu:

  1. Bentuk kandang dengan sistem koloni, artinya dalam satu ruangan kandang berisi hingga ribuan  ekor ayam petelur.
  2. Bentuk kandang dengan sistem Battery, artinya kandang dibuat berbentuk kotak-kotak memanjang dengan isi tiap kotak 3-4 ekor ayam petelur

Berdasarkan sistem pemeliharaannya, Jenis kandang ayam petelur dibagi menjadi 2 yaitu:

  1. Kandang lantai litter (sekam). Jenis lantai kandang ini biasa digunakan pada kandang sistem koloni.
  2. Kandang dengan lantai kolong berlubang (biasa disebut sistem panggung)
  3. Campuran antara lantai litter dan kolong berlubang.

Baca juga: Kandang ayam Jawa super yang baik, hemat lahan

Manajemen Pemilihan Bibit Ayam Petelur

Penting untuk diketahui beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam  cara beternak ayam petelur rumahan pemula, terutama pemilihan bibit/DOC (Days Old Chick) atau ayam umur sehari pada ayam petelur:

  1. Ukuran dan berat badan normal (35-40 gram)
  2. Tidak terdapat cacat pada tubuh DOC
  3. Bulu halus dan pusar sudah kering
  4. Pergerakan lincah, agresif dan nafsu makan tinggi
  5. Dubur ayam terlihat bersih

Beberapa persyaratan pemilihan bibit sebagai calon induk ayam petelur yaitu

  1. Konversi pakan (FCR)
    FCR pada ayam petelur merupakan sejumlah pakan yang dimakan/dihabiskan untuk menghasilkan perkilo bobot telur. Ayam petelur yang baik ditandai dengan jumlah pakan yang dihabiskan lebih sedikit daripada produksi (telur) yang dihasilkan.
  2. Produksi telur
    Faktor inilah yang kita tunggu. Faktor produksi telur  ditentukan oleh jenis ayam petelur yang kita pelihara. jenis ayam petelur ada 2, tipe sedang dan tipe ringan.

Beberapa jenis/strain ayam petelur yang biasa dipakai dalam cara budidaya ayam petelur di Indonesia:

  • Strain Babcock B-300 v
  • Strain Dekalb Xl-Link
  • Strain Hisex white
  • Strain H & W nick
  • Strain Hubbarb leghorn
  • Strain Ross white
  • Strain Shaver S 288
  • Strain Babcock B 380
  • Strain Hisex brown
  • Strain Hubbarb golden cornet
  • Strain Ross Brown
  • Strain Shaver star cross 579
  • Strain Warren sex sal link

Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur

Pemeliharaan ayam petelur agar cepat menghasilkan telur perlu adanya manajemen yang baik. Dalam hal ini, anda tidak perlu repot-repot melakukan berbagai upaya dalam cara budidaya ayam petelur. Karena poin penting sebenarya saat memanajemen pemeliharaan ayam petelur ada 3 yaitu:

  1. Pemeliharaan tanpa melakukan pergantian kandang
  2. Pemeliharaan dengan melakukan pergantian kandang periode dara
  3. Pemeliharaan dengan melakukan pergantian kandang periode menjelang bertelur

Hal yang harus diperhatikan ketika memanajemen proses pemeluharaan adalah:

  1. Pengaturan Pemanas.
    Dilakukan pada saat ayam masih berumur 0-12 minggu (Pullet), yaitu dengan menggunakkan pemanas buatan (brooder). Kebutuhan panas pada fase tersebut dari minggu ke minggu mengalami perubahan secara berkala.
    Minggu I   : Kebutuhan suhu sekitar 34-36°C
    Minggu II  : Kebutuhan suhu sekitar 30-33°C
    Minggu III: Kebutuhan suhu sekitar 27-28°C
    Minggu IV: Kebutuhan suhu sekitar 22-24°C
    Minggu V : Kebutuhan suhu disesuaikan dengan suhu alam.
  2. Pengaturan ventilasi
    Ventilasi disesuaikan dengan fase pemeliharaan. Apabila kandang masih berada di dalam kandang tertutup (biasanya saat anak ayam petelur masih pullet yaitu umur 0-12 minggu) maka pengaturan ventilasi dilakukan sebagai berikut:
    Minggu I: Kondisi Tirai tertutup seluruhnya
    Minggu II: Kondisi Tirai terbuka 1/3 bagian atas
    Minggu III: Kondisi Tirai terbuka 1/2 bagian
    Minggu IV: Kondisi Tirai terbuka 3/4 bagian
    Minggu V: Kondisi Tirai terbuka seluruhnya
  3. Pengaturan pencahayaan
    Pencahayaaan dalam sehari diberikan selama 9 jam. Apabila ayam sudah mulai berproduksi, pemberian cahaya diminimalkan yaitu saat siang hari selama 4 jam pada pagi hari sejak pukul 04.00-08.00 WIB. Sedangkan sisanya (5 jam) digunakan pada saat sore hari sejak pukul 06.00-21.00 WIB.
  4. Pengaturan tempat pakan dan tempat air minum.
    Penggunan tempat pakan dan tempat air minum biasanya menggunakan pipa paralon dengan ukuran sesuai kebutuhan. Kemudian paralon tersebut dibeelah menjadi 2 bagian menyerupai huruf U.

Manajemen Pemberian Pakan Ayam Petelur

Frekuensi pemberian pakan ayam petelur dilakukan sebanyak 2 x 1 hari. Kandungan nutrisi dalam pakan ayam petelur disesuaikan dengan kebutuhan ayamnya. Kebutuhan nutrisi untuk ayam petelur berbeda dengan kebutuhan nutrisi ayam pedanging. Berikut adalah kebutuhan nutrisi dalam cara beternak ayam petelur rumahan pemula skala kecil:

  1. Pakan fase starter
    Pakan yang diberikan pada ayam petelur fase starter harus memiliki kandungan protein 22-24%, Energi metabolisme 2800-3500 Kkal/kg, Serat kasar 4%, lemak 2,5%, calsium dan posphor masing-masing 1% dan 0,7-0,9%.
  2. Pakan fase grower
    Pakan yang diberikan pada ayam petelur fase starter harus memiliki kandungan protein 16-18%, Energi metabolisme 1375-1425 Kkal.
  3. Pakan fase layer
    Pakan yang diberikan pada ayam petelur fase starter harus memiliki kandungan protein 17-20%, Energo metabolisme 1450-1500 Kkal.

Disarankan pemberian pakan pada fase layer dibeti pakan tambahan berupa batu grid yang berfungsi untuk menambah asupan kalsium dan posphor karena untuk membantu proses pembentukan kulit/cangkang telur.

Pedoman jumlah pemberian pakan pada ayam petelur adalah sebagai berikut:

  1. Fase Starter 1 hari-12 minggu = 32-46 gr/ekor/hari.
  2. Fase Grower 13-18 minggu = 82-110 gr/ekor/hari.
  3. Fase Finisher 18-afkir = 115-118 gr/ekor/hari.

Baca juga: Cara Beternak Ayam Jawa Super/Joper 2-3 Panen

Manajemen Kesehatan Ayam Petelur

Kesehatan adalah point penting dalam cara beternak ayam petelur rumahan agar bisa menghasilkan produk yang tinggi. Standar pengendalian penyakit ayam petelur yang baik dilakukan melalui pencegahan dan pengobatan ayam sakit. Pencegahan dapat dilakukan melalui proses biosecurity dan sanitasi, sedangkan pengobatan ayam yang sakit dapat dilakukan dengan pemberian obat, vitamin, dan vaksin secara teratur dan terjadwal.

Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang pada ayam petelur terbagi menjadi 2 yaitu akibat penyakit yang diakibatkan oleh virus dan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri. Berikut adalah beberapa contoh penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri.

  1. ND (Newcastle Disease)
    Penyakit ini disebabkan oleh virus dengan tingkat kematian mencapai 90%.
    Gejala: Tanda-tanda yang ditimbulkan berup kepala terpuntir, nafsu makan menurun, jengger dan muka terlihat hitam kebiruan.
    Penanggulangan: Melakukan sanitasi dan biosecurity, isolasi/pemisahan antara ternak sakit dan ternak sehat, pemberian vaksin ND.
    Pengobatan: belum ada penemuan obat untuk penyakit ND
  2. IB (Infectious Bronchitis)
    Penyakit ini disebabkan oleh virus dengan tingkat kematian mencapai 70%
    Gejala: cangkang telur lembek, tidak normal (kasar dan terdapat bintik-bintik merah), putih dan kuning telur abnormal, pernapasan terganggu
    Penanggulangan: Melakukan sanitasi dan biosecurity, isolasi/pemisahan antara ternak sakit dan ternak sehat, pemberian vaksin IB
    Pengobatan: belum ada penemuan obat untuk penyakit IB
  3. Egg Drop Syndrom (EDS)
    Penyakit ini disebabkan oleh virus Avian Adenovirus tipe I.
    Gejala: Penurunan produksi selama 4 sampai 10 minggu (mencapai 40%), telur yang berukuran kecil, albumin (putih telur) menjadi cair.
    Penanggulangan: melakukan program vaskinasi EDS saat pullet (umur 14-15 minggu). Titer antibodi protektif hasil vaksinasi yang terbentuk dapat bertahan sampai satu tahun.
    Pengobatan: belum ada penemuan obat untuk penyakit EDS

Manajemen Pasca Panen Dan Pemasaran

Telur merupakan salah satu bahan pangan sumber protein hewani yang mempunyai nilai gizi yang tinggi, karena kandungan di dalam telur terdapat berbagai macam vitamin dan mineral serta asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Tapi sayang, telur memiliki sifat yang sangat mudah rusak karena telur mudah pecah dan retak. Oleh karena itu, perlu penanganan yang serius mulai dari pengambilan telur dari dalam kandang hingga proses pemasaran.

Berikut adalah proses penanganan pasca panen telur ayam dalam cara beternak ayam petelur yang penting untuk diketahui.

  1. Pengambilan telur dari kandang
    Kebanyakan ayam petelur memproduksi telurnya setelah adanya sinar matahari yaitupada pagi hari hingga sore hari. Proses pengambilan telur dilakukan sebanyak 2 x dalam sehari yaitu pada pagi hari sekitar pukul 08.00WIB dan pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB. Cara pengambilan telur yaitu telur diambil dan diletakkan pada Egg Try yang telah disediakan dengan posisi telur bagian tumpul berada di atas.
  2. Membersihkan kulit/cangkang telur
    Setelah proses pengambilan telur dari dalam kandang, segera lakukan pembersihan telur. Ada 2 cara membersihkan telur ayam.
    Pertama, telur dibersihkan dengan cara kering yaitu dengan melakukan pengelapan telur satu per satu menggunakan lap ataupun amplas. bisa juga menggunakan alat pencuci piring. Cara pembersihan ini memang terbilang cukup mudah namun membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar.
    Kedua
    , telur dibersihkan  dengan cara basah yaitu dengan cara telur direndam menggunakan air hanga sekitar 3-5 menit. Setelah direndam kemudian telur dibersihkan menggunakan tangan. Gunakan sarung tangan sebagai pelindung tangan. Kelemahan metode ini adalah pencemaran bakteri sangat mudah. Langkah yang perlu dilakukan yaitu dengan cara memberi larutan NaOH pada air pencuci dan melakukan pergantian air secara berkala
  3. Pemilihaan telur
    Setelah telur dibersihkan kemudian melakukan pemilihan telur. Telur yang baik dapat dilihat dari bentuk fisiknya (berbentuk bulat telur, kulit/cangkang telur halus dan rata serta tidak adanya retakan)
  4. Pengepakkan Telur
    Telur yang sudag dipilih berdasarkan bentuk keseragaman telur dan kualitas telur kemudian dikemas sesuai dengan keinginan pasar.
  5. Penyimpanan telur
    Telur yang disimpan sebelum dipasarkan atau sebelum dikonsumsi  sebaiknya disimpan dalam suhu kamar tidak lebih dari 7 hari terhitung dari proses peneluran. Apabila telur disimpan dalam suhu dingin misalnya di dalam kulkas disarankan menggunakan suhu sekitar 8 derajat celcius.

Proses pemasaran telur ayam dapat dilakukan dengan cara memasarkan langsung ke pasar atau menjualnya ke pengepul telur yang ada di sekitar peternakan. Selain itu pemasaran juga dapat dilakukan pada industri pembuatan roti ataupun industri pembuatan kosmetik.

Untuk mengetahui cara beternak ayam petelur rumahan untuk pemula dapat anda baca pada Analisis usaha ayam petelur modal kecil untung besar.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *