Budidaya Serai Wangi atau Serah Dapur Untuk Pemula

budidaya serai wangi
budidaya serai wangi atau sereh dapur

Kegiatan menanam memang sangat menyenangkan. Banyak jenis tanaman yang bisa Anda jadikan sebagai budidaya, mulai dari sayuran, buah-buahan, rempah-rempah hingga tanaman hias. Salah satu jenis tanaman—yang juga merupakan rempah-rempah, adalah serai wangi. Budidaya serai wangi atau sereh, ternyata memiliki keuntungannya tersendiri dan tidak terlalu sulit.

Budidaya serai wangi banyak dilakukan para petani Indonesia. Bukan hanya pemeliharaannya saja yang tidak ribet, melainkan prospek ke depannya juga menguntungkan. Apalagi serai merupakan jenis rempah-rempah yang banyak digunakan. Baik untuk bumbu masakan, obat, hingga produk kecantikan.

Perbedaan dan Klasifikasi Serai Wangi

Mungkin banyak yang masih awam dengan perbedaan antara serai wangi dan serai dapur. Perbedaannya dapat dilihat dari klasifikasi kandungan dalam serai, seperti pada penjelasan di bawah ini:

  • Serai/Sereh Dapur (lemongrass), kandungan utamanya adalah Sitral. Serai dapur umumnya tidak terlalu banyak dibudidayakan di Indonesia.
  • Serai/Sereh Wangi (Sitronella), lebih banyak di kenal di Indonesia dan dijadikan sebagai budidaya. Kandungan utamanya merupakan Cirtronella yang sering digunakan sebagai bahan kosmetik atau minyak pijat. Produk bayi seperti minyak telon juga banyak yang diperkaya dengan kandungan zat ini.

 

Nama latin dari Serai Wangi adalah Cymbopogon Nardus atau disebut tanaman aromatik abadi. Merupakan keluarga dari Poaceae dan berasal dari Asia.

Kandungan:

Serai wangi memiliki beberapa kandungan zat yang kaya akan manfaat. Selain Citronella, beberapa zat yang terkandung:

  • Epirnol
  • Sitroneral
  • Borneol
  • Terpinen-4-01
  • Al-terpineol
  • Geraniol
  • Dipenten
  • Sitrat
  • Sintronellal antara 32-45%
  • Geraniol antara 10-12%
  • Sitronellol antara 11-15%
  • Geranil asetat antara 10-12%
  • Sitronellal asetat antara 2-4%
  • Elemol dan beberapa zat lainnya.

Klasifikasi:

Adapun ciri-ciri dari tanaman tersebut, jika dilihat dari bentuknya Serai Wangi mirip dengan ilalang atau rumput gajah odot. Daunnya merumbai ke bawah tanpa dahan, kasat, panjang runcing dengan tepian tajam. Apabila Anda tidak berhati-hati saat mencabut daun Serai Wangi, kulit Anda dengan mudah dapat tersayat sisinya yang tajam.

Untuk batangnya bergerombol berwarna putih keunguan/kemerahan. Dan mudah patah.

Akarnya serabut berimpang pendek.

Serai Wangi dapat hidup dengan baik di ketinggian 1.000 sampai 1.500 dpl.

Manfaat Tanaman Serai Wangi

Banyak sekali manfaat dari tanaman rempah-rempah ini. Mulai untuk kesehatan hingga kencantikan kulit. Itu sebabnya budidaya Serai Wangi menjadi opsi terbaik untuk Anda. Di antaranya:

  • Minyak Serai Wangi dapat dijadikan sebagai pereda nyeri. Hal ini terbukti dari banyaknya produk-produk penghilang nyeri yang memasukan ekstra minyak Serai Wangi pada komposisinya. Seperti pada minyak urut hingga minuman herbal.

Anda pun dapat membuatnya sendiri. Caranya mudah saja, hanya tinggal mencampur minyak Serai Wangi dengan minyak kelapa. Lalu tambahkan dengan air hangat. Anda dapat memanjakan kaki dengan rendaman air tersebut.

  • Kandungan Citronella ternyata ampuh meredakan stress. Anda dapat mencampurkan minyak Serai Wangi dengan aroma terapi. Ini juga membantu kualitas tidur Anda menjadi lebih baik.
  • Zat agen diaphoretic/diuretic menjadi detoks dalam tubuh Anda. Campurkan minyak Serai Wangi, madu, lemon dan air hangat. Ramuan tersebut diminum saat pagi hari atau menjelang tidur.
  • Serai Wangi juga dapat menurunkan gula darah. Campuran teh + Serai Wangi akan membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Juga membantu tubuh menjadi lebih langsing.
  • Penanaman Serai Wangi mencegah terjadinya erosi tanah dan merehabilitasi lahan-lahan kritis.
  • Batang dan daunnya berguna untuk mengusir nyamuk. Hal ini karena adanya kandungan Geraniol, terpen-terpen, terpen alkohol, asam-asam organik, sitroneral dan lainnya.
  • Untuk kecantikan, dapat menghilangkan gatal-gatal, bekas jerawat, bau badan, menghilangkan ketombe dan masih banyak lagi.

 

Cara Budidaya Serai Wangi dengan Mudah

Nah, setelah mengetahui klasifikasi dan manfaatnya yang segudang. Mungkin Anda akan tertarik untuk memulai budidaya Serai Wangi.

Untuk tanaman Serai Wangi terbilang cukup produktif bahkan hingga 10 tahun. Media tanam pun dapat di lakukan baik di dalam pot ataupun media tanam langsung (lahan lapang). Ada dua cara yang dapat Anda pilih ketika melakukan budidaya: dengan sistem Monokultur atau Tumpang Sari.

Apa itu Monokultur dan Tumpang Sari?

Menurut Wikipedia, Monokultur merupakan salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal.

Sedangkan Tumpang sari merupakan bentuk penanaman campuran berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman, pada satu areal lahan tanam dalam waktu bersamaan atau agak bersamaan. Secara singkatnya, tumpang sari merupakan cara budidaya tanaman dengan cara ditanam bersama-sama. Biasa disebut dengan double-cropping.

 

Budidaya Serai Wangi sebaiknya pertama-tama dilakukan dengan cara penyemaian pada Polybag. Benihnya dapat Anda beli atau mengambil dari batang yang sudah tua dan berakar. Biarkan benih tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 30cm.

Setelah itu, untuk budidaya di area lahan:

Pertama-tama, pastikan tanah merupakan jenis tanah gembur. PH tanah berkisar 5,5-7,0 dengan curah hujan 1.000-1.500 mm per tahun.

Setelah memilih area lahan, lakukan pembajakan dan pemupukan tanah. Diamkan lahan selama 2 minggu untuk menghasilkan kualitas tanah yang baik.

Jika akan mulai menanam, lebih baik lakukan saat di penghujung musim hujan atau di awal.

Jarak antara tanaman kira-kira 100×100 cm. Satu lubang untuk 1-2 batang benih. Jangan lupa lakukan pemupukan secara rutin. Untuk 1 bulan pertama, gunakan jenis Urea dengan jumlah 25 gram per rumpun. Pupuk kandang diberi rutin setiap 6 bulan sekali. Dan untuk jenis NPK kisaran 150-200kg/Ha dengan perbandingan 37;65;65.

Untuk sistem Monokultur ini pastikan itensitas cahaya antara 75-100% agar menghasilkan Serai Wangi kualitas baik.

Bagaimana dengan penanaman di Pot. Cara penyemaian pertama saja, untuk selanjutnya dipindahkan ke pot yang lebih besar. Untuk pot ukuran 30-50 cm, kedalaman saat menanam benih sekitar 10cm.

Panen pertama didapat ketika usia tanaman berumur 6 bulan. Dan selanjutnya setiap 3-4 bulan sekali masa panen.

Penjualan Serai Wangi berkisar antara Rp650-, per Kg dan untuk minyaknya sendiri cukup mahal, berkisar antara Rp340.000/kg. Dan harganya terus mengalami kenaikan. Maka tidak heran, budidaya Serai Wangi menjanjikan keuntungan yang besar.

Sebelum melakukan budidaya Serai Wangi, ada baiknya Anda perhatikan seperti cuaca, lingkungan, berapa harga jual yang sedang berlaku apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Serta potensi pasar pada minat Serai Wangi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *